Sunday, January 10, 2016

2016 #1 Anna Azlina - Kerlip sang Bintang yang Hilang

Written by ninda anindita at 1/10/2016 09:36:00 PM
Judul                     : Kerlip sang Bintang yang Hilang
Pengarang          : Anna Azlina
Penerbit              : DIVA Press
Tebal                     : 236 halaman
Cetakan               : Pertama, Agustus 2015
ISBN                      : 978-602-255-951-1

“Novel pertama bagi penulis yang kelak menjadi penulis produktif dan berdedikasi tinggi berbagi tulisan penuh kebaikan.”
Tere Liye, Penulis
Kerlip dan Bintang. Jalinan persahabatan dua anak jalanan, bermula kala Bintang menyelamatkan Kerlip yang dikejar-kejar preman di daerah Gilingan, Solo. Demi menyelamatkan Kerlip yang dituduh mencuri, Bintang dengan berani menghadapi komplotan Geng Brenos. Persahabatan mereka diuji saat tiba-tiba Kerlip pergi dari LSM Seroja, tempat mereka tinggal setelah ditolong oleh Tina, yang peduli terhadap anak jalanan.
Bintang kerap bertanya, mengapa Kerlip pergi? Akankah kedua sahabat ini bersua lagi?
***
Bintang dan Kerlip dipertemukan di sebuah pasar tradisional. Ketika itu, Kerlip sedang berlari menghindar dari kejaran preman. Bintang membawanya ke berlari mencari suatu tempat yang aman untuk bersembunyi sampai akhirnya preman-preman tersebut tidak terlihat lagi.
Kesialan Kerlip tidak berhenti sampai disitu saja. Saat ingin membeli makanan, Kerlip dituduh mencuri oleh seorang istri tuan tanah. Kerlip berlari untuk menghindari amukan masa. Namun, semakin pintar mereka bersembunyi, akhirnya Kerlip tetap dapat ditemukan dan ditangkap.
Bintang tidak tinggal diam. Ia bersama teman-temannya menyusun rencana untuk membebaskan Kerlip. Dalam diam mereka bersembunyi. Sial. Keberadaan mereka pun akhirnya dapat diketahui. Namun, polisi yang ‘diundang’ pun cukup cekatan. Para polisi berhasil mengejar dan menangkap komplotan para penjahat tersebut.
Setelah Kerip menghirup udara segar, Tina meminta mereka berdua untuk tinggal di Seroja bersama teman-temannya yang lain. Tina ingin melanjutkan mimpi mereka untuk bersekolah. Ia pun dengan senang hati mengangkat Bintang sebagai adiknya walaupun itu berarti harus menentang orang yang telah berjasa mendidiknya selama ini.
Tekad Tina sudah bulat. Walaupun mendapat tentangan dari Bunda, Tina tetap mengangkat Bintang sebagai adiknya. Ia memboyong Bintang untuk bersekolah di Rumah Sketsa. Tibalah hari pertama Bintang masuk sekolah. Semua berjalan sesuai rencana. Hingga pada akhirnya Tina mendapatkan kabar bahwa Kerlip menghilang dari Seroja. Untuk sementara, Tina merahasiakan hal ini dari Bintang. Tina tidak ingin mengacaukan hari pertama Bintang di sekolah.
Entah sejak kapan, Bintang mulai mencari Kerlip kesana-kemari. Hingga akhirnya Bintang mulai membiasakan diri untuk hidup tanpa Kerlip. Bintang berhasil menemukan sahabat baru di Rumah Sketsa.
Waktu berjalan lama. Sang waktu pulalah yang membuat kepribadian Bintang semakin matang dan dikagumi teman-temannya. Namun, ia masih ingin berharap agar bisa bertmu dengan sahabat kecilnya dulu.
***
Semenjak awal menyentuhnya, aku nggak terlalu sreg sama cover-nya. Menurutku nggak rapih. Kasar. Nggak menggambarkan tentang kehidupan Bintang dan Kerlip yang jadi main characters di cerita ini.
Cerita yang ditulis pun tidak terlalu jelas dimana fokusnya. Kadang penulis ingin memusatkan fokus di alur cerita, tapi justru yang kuat hanyalah fokus dari setting-nya saja. Aku ingat di kelas menulisku, apa yang ditulis penulis haruslah ada reference-nya. Penyebutan nama daerah dan seluk beluk kota Solo menurutku refers to nothing. Kalau pada buku Learning from Butterflies karya Karina Nurherbyanti, penulis menggambarkan Orchad Road yang memang semua orang tahu akan kepadatannya. Sedangkan Solo? Tidak semua orang tahu dan paham tentang seluk beluk kota Solo. Aku sebagai pembaca pun bingung kenapa setting harus di jalan ini, gang itu, daerah ini, dan depan sekolah yang itu. Is there any specific information that can describe the atmosphere of the place to the story?
Penulis juga memberikan too much description di setiap pointnya. Banyak hal-hal menarik yang menjadi tidak menarik karena pendeskripsian ini. Beberapa plot changing juga dirasa terlalu cepat dan terlalu dipaksakan. Nggak natural.
For me, this book contains some illogical things. One of the examples is bahasa yang ditulis oleh Kerlip di suratnya terlalu high-class. Rasanya aneh anak seperti Kerlip bisa menulis surat seperti itu. Surat itu terlalu rapi untuk seorang Kerlip yang notabenenya baru beajar menulis.
@aninditaninda


0 responses:

Post a Comment

 

Galerie des Livres Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos