Saturday, June 27, 2015

2015 #R15 >> Yuu Sasih - Kahve

Written by ninda anindita at 6/27/2015 10:23:00 AM

Judul                     : Kahve
Pengarang          : Yuu Sasih
Penerbit              : de TEENS
Tebal                     : 240 halaman
Cetakan               : Pertama, Mei 2015
ISBN                      : 978-602-255-894-3

“Saat orang sudah putus asa, hal seremeh apa pun akan dijadikan pegangan harapan.”
Kencana pergi ke ibu kota untuk kuliah sekaligus mencari jawaban atas alasan Saras, kakaknya, bunuh diri. Dia menemukan gambar shamrock (semanggi berhelai tiga) di buku harian kakaknya yang bertanggalkan empat bulan sebelum hari kematiannya, yang juga menjadi entri terakhir di sana. Isi dari halaman yang dipenuhi gambar semanggi itu menyatakan bahwa kakaknya baru saja mendapatkan hasil ramalan yang bagus dari Black Dreams, kedai kopi dekat kampusnya.
“Hari ini di Black Dreams aku dapat shamrock di cangkir kopiku. Tentu aku nggak lihat apa-apa di canngkir kopiku selain ampas hitam, tapi si barista kelihatan yakin saat mengatakannya. Katanya itu pertanda akan terkabulnya keinginan terbesar orang yang mendapatannya. Dia juga bilang kalau gambar itu jarang ditemukan saat pembacaan. Memang cuma ramalan biasa, tapi akan menyenangkan kalau benar.”
***

Kencana memutuskan untuk datang mengunjungi Black Dreams. Mungkin dari situ ia kan menemukan jawaban atas kematian kakaknya. Namun, bukan jawaban yang ia dapat. Ia justru memaki sang barista atas kematian kakaknya. Apa gunanya mendapat shamrock kalau memang sudah putus asa dengan kehidupannya dan memutuskan mengakhiri hidupnya dengan ‘terbang’ dari kampus?
Namun, pada akhirnya Kencana kembali. Ia kembali dan sang barista membacakan tasseo dari cangkir Kencana yang masih disimpannya. Sang barista juga mengatakan bahwa ia salah membaca cangkir Saras, kakak Kencana, dengan alasan prinsip. Kencana terdengar tidak peduli. Namun, sang barista tetap menahannya dan mengatakan yang sebenarnya pada Kencana.
Time goes by, Kencana pun beberapa kali datang ke Black Dreams bersama Linda dan Rasy, teman-teman barunya di kampus. Ia pun membantu sang barista untuk mengelola Black Dreams. Kencana tidak pernah menyangka bahwa kedekatannya dengan Linda dan Rasy akan membawanya untuk menyingkap tabir kematian Saras. Namun, ia harus rela kehilangan Linda dan hidup dalam ilusinya demi mengetahui semua jawabannya.
***
Seru dan bikin penasaran banget. Teka-teki kematian Saras dipaparkan dengan jelas, rinci, dan menegangkan. Alur maju-mundur yang tersaji tidak membuat saya sebagai pembaca bingung untuk menyatukannya. Justru dengan alur maju-mundur seperti ini, hawa yang tersaji di dalam cerita benar-benar terasa dan tersampaikan kepada pembaca. Setiap detil cerita tersaji dengan rapih dan apik sehingga membuat pembaca tidak ingin beranjak barang sedetik pun.
Kehadiran novel The Picture of Dorian Gray karya Oscar Wilde menambah feel dari cerita tersebut. Sisi baiknya, bagi saya yang sudah pernah membaca Dorian Gray (walaupun versi terjemahan), saya bisa mendapatkan feel yang lebih dalam lagi tentang kehidupan para tokoh di cerita ini. Namun, bagi yang belum pernah membaca satu-satunya novel karya Oscar Wilde ini, tentu mereka akan bingung kenapa Kencana diibaratkan sebagai Dorian Gray dan Linda adalah Lord Henry. Mungkin, hal ini bisa menjadi referensi bagi mereka yang belum membacanya agar bisa mendapatkan feel yang lebih dalam dan intens lagi.
Entah apa lagi yang harus disampaikan. Saya hanya kagum dan lega bahwa akhirnya de TEENS menerbitkan novel yang menurut saya memang layak terbit. Bukan seperti biasanya yang hanya menyajikan kisah romansa yang picisan. Minta rating? Saya berikan lima bintang saya untuk buku ini. Congrats!


@aninditaninda

0 responses:

Post a Comment

 

Galerie des Livres Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos