Wednesday, June 10, 2015

2015 #R14 >> Lugina W. G., dkk. - Senja yang Mendadak Bisu

Written by ninda anindita at 6/10/2015 10:26:00 AM

Judul                     : Senja yang Mendadak Bisu
Pengarang          : Lugina W. G., dkk.
Penerbit              : de TEENS
Tebal                     : 240 halaman
Cetakan               : Pertama, April 2015
ISBN                      : 978-602-0806-06-2

Bah Kanta masih ingat apa yang dikatakan calon bupati berambut pitak kala itu, “Sst…, bukan buat dimakan…,”bisiknya pelan, mata culasnya melirik ke kiri dan kanan, takut ada yang mendengarkan. “Buat syarat, Ki… ehm buat… anu, sesajen. Minta berkahnya begitu lho, Ki. Namanya juga ikhtiar, sebentar lagi Pilkada Ki.” Begitu katanya, sambal matanya bergerak-gerak tak mau diam. Barangkali begitulah gelagat manusia yang tidak bisa dipercaya, batin Bhak Kanta.
Bah Kanta tak pernah mengira bahwa senja bisa tiba-tiba bisu.

Pembaca mungkin akan beberapa kali berhenti sejenak selama membaca antologi ini. Selain menikmati suguhan pesona budaya dari berbgai daerah di Indonesia, cerpen-cerpen ini akan meninggalkan jejak untuk direnungkan.
***

Seperti yang tertulis pada halaman belakang buku, saya sebagai pembaca beberapa kali menutup buku hanya untuk membayangkan situasi dan kondisi yang ada. Namun sayang, ada beberapa cerita yang tidak terlalu kuat dalam mengimajinasikan setting-nya.
Saya terkesan dengan beberapa kisah tentang pernikahan yang tersaji. Tak perlu dipungkiri, Indonesia dengan adat istiadatnya yang melimpah juga memiliki kepercayaan dan ritual tersendiri dalam melakukan pernikahan. Namun, banyak pula pernikahan yang gagal justru karena adat dan budaya itu sendiri. Seperti halnya suku A yang tidak boleh menikahi suku B, pernikahan satu kasta atau derajat sosial, atau bahkan hitungan weton untuk menentukan hari pernnikahan yang bisa saja membatalkan pernikahan itu sendiri karena weton kedua mempelai tidak cocok.
Percaya atau tidak, namun itulah yang menjadi sugesti banyaknya kasus perceraian di Indonesia. Mereka bersikukuh melawan adat, namun di lubuk hati terdalamnya mereka sebenarnya sangat takut dengan berbagai ramalan yang ada. Ketika menemui konflik di dalam rumah tangga, mereka pun akan otomatis tersugesti bahwa pertengkaran itu memang ada untuk menghancurkan rumah tangga mereka. yaaah,, itulah Indonesia.
Beberapa kisah juga menjadi favorit saya karena mengusuk tema olitik yang ada di Indonesia. Mereka menggabungkan isu-isu politik dengan ragam budaya yang ada di Indonesia. Seperti tertampar pada fakta, bahwa untuk menjadi pemimpin di Indonesia, para kandidat lebih memilih untuk meraihnya melalui jalan belakang, yaitu mencari sesajen agar kemenangannya diberkati. Miris memang, namun sekali lagi. Itulah Indonesia.
Selamat menikmati ragam budaya Indonesia dari segala perspektif kasus yang berbeda.

@aninditaninda

0 responses:

Post a Comment

 

Galerie des Livres Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos