Monday, April 13, 2015

2015 #R9 >> Hanna Eka - The Chef

Written by ninda anindita at 4/13/2015 11:07:00 AM

Judul                     : The Chef
Pengarang          : Hanna Enka
Penerbit              : Mazola
Tebal                     : 288 halaman
Cetakan               : Pertama, 2015
ISBN                      : 978-602-255-689-3

Feba merasa masa lalunya seolah-olah kembali berjalan menghampiri begitu ia menginjakkan kaki di Miami. Keputusan gadis itu untuk kembali ke Miami selain miniti karier menjadi koki, memang untuk menemukan pangeran pudingnya.
Perjalanan panjang Feba mencari pageran pudding mempertemukannya dengan cerita baru. Membimbingnya menemukan kembali keluarga, cinta, persahabatan, dan tentu saja resep-resep baru.
“Sekarang aku mengerti. Ternyata, ini maksud perkataaan Jamie Oliver, masakan yang enak tidak selalu harus buatan tangan.”
***

Akhirnya, Feba kembali menginjakkan kakinya di Miami, tempat yang menyimpan kenangan baginya. Tujuan terbesarnya saat ini adalah menemukan pangeran pudding yang dulu pernah merebut hatinya. Tapi, bagaimana cara menemukannya?
Demi menyambung hidup di Miami, Feba memutuskan untuk melamar pekerjaan di sebuah kafe. Tanpa disadariya, ada seorang pria yang terus mengamatinya dengan penasaran di dalam kafe tersebut. Pria tersebut kembali ke kafekeesokan harinya. Ia kembali hanya untuk meminta pamannya, sang pemilik kafe, untuk mengijinkannya bertegur sapa dengan Feba. Rasa penasaran menggelayuti pikirannya terus menerus.
Waktu terus berjalan, Feba terus berusaha mencari pangeran pudingnya. Ia datang ke kampusnya dan menanyakannya pada salah satu dosen. Setelah menemukan tempat kerjanya, ia pun berusaha untuk membuat surprise. Ia membuat pudding seperti yang dulu pernah diberikan oleh pangeran pudingnya lalu memberikannya di kantornya.
Setela lama berusaha dan menunggu, ia pun menyatakan apa yang selama ini sudah dirasakannya kepada pangeran pudingnya. Namun, pangeran puding justru tidak pernah mengingatnya bahkan ia tidak pernah mengenal ia sebelumnya kecuali hanya sebagai teman kuliah yang beda kelas. Itu saja.
Di tengah keputus asaannya, Feba harus berhadapan dengan kenyataan lain bahwa sepertinya pria yang selama ini dibayangkannya bukanlah pangeran pudingnya. Kenyataan itu justru membuat Feba merasa bingung, namun juga lega dan senang.
***
Penulis membuat buku ini dengan judul ‘The Chef’. Walaupun mengisahkan kehidupan Feba yang notabenenya adalah eorang kooki, namun kegiatannya sebagai seorang koki justru tidak terlalu menjadi ‘santapan utama’ bagi para pembaca. Pembaca lebih disuguhkan kepada usaha Feba untuk mencari pangeran pudingnya, sehingga kesan seorang ‘koki’ yang seharusnya ditonjolkan oleh Feba tidak begitu terasa.
Bahasa yang digunakan penulis dalam berdialog pun cukup kaku. Tidak luwes seperti dialog yang seharusnya. Mungkin bisa dicoba untuk melafalkannya sebelum menulisnya, sehingga bisa terasa apakah dialognya kaku atau tidak. Bahasa yang digunakan pun seperti bahasa terjemahankaku. Seperti pada kata ‘gawai’ sebagai terjemahan dari ‘gadget’. Tidak semua orang tahu Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jadi, tidak semua orang juga tahu apa itu ‘gawai’. Dalam teori linguistik, dikatakan bahwa kita boleh menulis kata serapan yang lebih banyak diketahui oleh orang awam dengan cara membuatnya ‘italic’. Hal ini bertujuan agara para pembaca yang tidak begitu menguasai bahasa tertentu tetap dapat mengetahui artinya.
Pada satu bagian cerita, Demian meminta Feba untuk memanggilnya dengan nama depannya bukan nama belakangnya. Hal itu sebenarnya udah dilakukan oleh Feba walaupun beberapa kali Feba tetap memanggilnya Davis. Hal seperti ini membuat alur cerita yang dibuat oleh penulis seolah dipaksakan.
Menurut saya, buku ini lebuh cocok dengan judul ‘Pangeran Puding’ daripada “The Chef’. Seperti yang sudah saya katakana, cerita ini lebih mengandung unsur ‘mencari pangeran puding’ daripada kegiatan Feba sebagai koki di Miami.

@aninditaninda

0 responses:

Post a Comment

 

Galerie des Livres Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos