Tuesday, April 7, 2015

2015 #R8 >> Risma Ridha Anissa - Nyanyian di Bawah Hujan

Written by ninda anindita at 4/07/2015 09:45:00 AM

Judul                     : Nyanyian di Bawah Hujan
Pengarang          : Risma Ridha Anissa
Penerbit              : de TEENS
Tebal                     : 204 halaman
Cetakan               : Pertama, Januari 2015
ISBN                      : 978-602-296-035-5

Bagi Ghita, November berarti kering. Dunia seolah mati. Setidaknya dunia Ghita. Berbagai kesedihan dan kehilangan yang kerap terjadi pada bulan November, membuat Ghita amat membenci bulan kesebelas itu.
Demi mencapai mimpi dan memenuhi wasiat sang nenek, Ghita melakukan perjalanan dari Milan ke Sicilia. Bukan perjalanan yang mudah. Dikejar-kejar orang, dicemooh menjadi bumbu dalam perjalanannya ini.
Hingga pertemuannya dengan Lanzo, si pemuda aneh dan misterius ini mengubah segalanya.
Ghita pun berusaha menapaki November kali ini dan meniti jalan mewujudkan mimpinya selama ini. Mimpi menjadi penyanyi opera seperti sang nenek.
Maka, di bawah rinai hujan, Ghita bernyanyi.
Akankah mimpinya bemain dalam opera terwujud? Apakah pada November kali ini ia harus kehilangan cinta (lagi)?
***

Ghita Allonza memutuskan untuk meniti kariernya di Itali. Ia ingin meneruskan cita-cita Nonna dan juga menyampaikan pesan terakhir dari Nonna. Berangkat ke Itali membawa sejuta mimpi, Ghita harus menelan ludah sementara mengetahui niat Papa yang terus ’mengawalnya’ kemanapun ia pergi. Papa tidak ingin Ghita menjadi artis opera. Papa ingin Ghita mengikuti keinginannya.
Ghita tidak mau terus berada dalam otoritas Papa. Ia pun memutuskan untuk melarikan diri. Niatnya tersebut membawanya bertemu dengan sosok Lanzo yang ‘setia’ menemaninya kemanapun kakinya melangkah. Ia juga bertemu dengan orang-orang baru yang berhasil membangun semangatnya untuk mencapai mimpinya dan melaksanakan misi kepergiannya ke Itali.
Ia memulai mimpinya dengan mengikuti audisi artis opera. Ia mengincar untuk menjadi tokoh utama. Sayang, kenyataan tidak sesuai dengan harapannya. Ia harus puas dengan predikat sebagai pemeran pembantu. Namun, Tuhan memiliki rencana lain yang lebih indah di luar sana.
***
Di dalam sinopsis disebutkan bahwa Ghita sangan membenci November. Namun, penulis hanya menyebutkan alasannya dalam satu-dua paragraf kecildalam cerita. Hal itu menyebabkan ‘kesuraman’ November yang dirasakan Ghita tidak terlalu memiliki sense yang kuat bagi pembaca.
Banyaknya tokoh yang ada membuat bingung pembaca dalam menentukan tokoh utama dan siapa saja yang berperan dalam kehidupan Ghita. Semua tokoh terasa terlalu ingin memiliki peran yang dominan.
Cerita ini juga mempunyai fokus yang sangat berantakan. Apa yang menjadi fokus utama dari cerita Ghita? November yang kelam, Lanzo, otoritas Papa, opera, kehadiran Aldi, atau apa? Semua datang bertubi-tubi tanpa pembagian yang pas dan sesuai. Lagi-lagi, semua terasa dominan. Saya sebagai pembaca tidak bisa merasakan konflik utama yang disuguhkan oleh penulis. Hal ini juga dibuktikan dengan adanya beberapa adegan besar yang tidak penting. Semua yang tersaji membuat pembaca tidak bisa merasakan apa sebenarnya yang dirasakan oleh Ghita.
Kenapa penulis mengambil judul ‘Nyanyian di Bawah Hujan’? Menurut saya itu bukanlah main course yang disajikan oleh penulis. Lagipula, jika judul tersebut dianalisis secara eksplisit, aksi Ghita bernyanyi di tengah kerumunan orang itu bukan saat hujan, tapi saat AKAN hujan. Jika dianalisis secara implisit pun sangat tidak sesuai dengan konteks ceritanya.
Selanjutnya, mengapa Papa tidak menunggu Ghita cukup sukses di dunia opera agar Papa sadar dari kesalahannya? Rasanya tidak masuk akal jika Ghita baru tampil di atas panggung sekali dan hanya menjadi peran pembantu serta membuat hati Papa luluh seketika. Jika ingin membuat alur yang seperti ini, untuk level yang tidak jauh berbeda saya rekomendasikan untuk menggunakan The Dancer karya Arthasalina sebagai referensi.
Terakhir, ending yang ditampilkan oleh penulis terkesan dipaksa. Penulis seolah-olah kehabisan ide, namun ingin karyanya segera diterbitkan. Alhasil yang tertulis pun hanya ala kadarnya. Terburu-buru.
Kesimpulannya, secara keseluruhan sinopsis, judul, dan isi, karya ini sangatlah belum matang. Perlu penggodokan naskah cerita beberapa kali lagi. Penulis masih sangat perlu mengasah bagian-bagian tertentu dalam cerita agar semakin tajam. Bukannya tumpul tak menentu.

@aninditaninda

0 responses:

Post a Comment

 

Galerie des Livres Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos