Saturday, February 21, 2015

2015 #R4 >> Lindaisy - Hujanlah Lain Hari; Masa Kecil, Mimpi, Kau, dan Ramyun

Written by ninda anindita at 2/21/2015 03:52:00 PM

Judul                     : Hujanlah Lain Hari; Masa Kecil, Mimpi, Kau, dan Ramyun
Pengarang          : Lindaisy
Penerbit              : DIVA Press
Tebal                     : 356 halaman
Cetakan               : Pertama, November 2014
ISBN                      : 978-602-296-050-8

Kedai ramyun mempertemukan Shim Jangwoo pada Geum Janhwa, nona pemilik kedai. Dan, hujan malam itu memaksa Jangwoo menemuinya lagi, untuk mengembalikan payung sang nona
Sebuah kebetulan yang manis. Jangwoo yang tadinya penyanyi di klub malam malah banting setir menjadi pelayan. Tidak hanya belajar membuat mi yang lezat, ia pun merasa perlu memahami karakter bosnya yang unik, juga gigih itu. Hingga, ia akhirnya tahu bahwa sosok sang bos ternyata memiliki keterkaitan dengan masa kecilnya.
Sebuah peristiwa di apartemen Janhwa melempar Jangwoo pada posisi sulit. Ia dituduh sebagai otak pencurian dokumen yang penting milik Janhwa. Tapi, dalam kondisi tak berdaya, seorang laki-laki yang disukai Janhwa, memberi bantuan. Sebuah bantuan bersyarat yang akan menyusahkan Jangwoo.
***

Bryan mengundurkan diri dari kedai. Namun, ia tidak diijinkan untuk berhenti dari kedai begitu saja. Ia harus menemukan penggantinya terlebih dahulu. Beruntung ia bertemu dengan Shim Jangwoo. Ia langsung menawarinya pekerjaan dan mengajarinya bagaimana memasak ramyun. Setelah itu, hidupnya bebas.
Geum Janhwa, sang pemilik kedai, suka dengan kinerja Jangwoo. Hasil masakannya jauh lebih baik daripada masakan Bryan. Yah, walaupun awalnya memang sangat berantakan tapi, Jangwoo bisa belajar dan beradaptasi dengan cepat.
Perhatian jangwoo tidak hanya terfokus pada pekerjaannya sebagai koki di kedai Janhwa. Ia juga memiliki perhatian lebih terhadap bosnya. Bryan benar, ia akan mengetahui sisi-sisi lain dari Janhwa dalam waktu dekat.
Salah satu sisi lain yang ia ketahui dari Janhwa adalah ia memiliki seorang adik yang sudah dirawat selama setahun dengan biaya perawatan yang tidak murah. Janhwa harus menanggung semua biayanya sendiri. Ia harus mengurus kedai, kuliah, dan merawat adiknya. Namun, ketika uang sudah di tangan, adiknya justru pergi meninggalkannya.
Tak lama berselang, ia pun mengalami peristiwa menakutkan di kedainya. Benda paling berharga miliknya telah dirampok. Ketika polisi menyelidiki kasusnya, semua dugaan pun tertuju pada Jangwoo. Tanpa berpikir panjang dan meminta penjelasan, ia pun memecat Jangwoo dari kedainya. Bantuan untuk terbebas dari kasus datang kepada Jangwoo. Namun, Jangwoo mendapatkan satu syarat. Jangwoo harus pergi jauh dari kehidupan Janhwa.
***
Sebenarnya saya tidak terlalu suka dengan hal-hal yang berbau Korea. Namun, sudah tugas saya untuk meresensi semua buku yang diberikan, maka inilah hasil resensi saya. Semoga cukup objektif.
Awalnya saya pikir Jangwoo sudah menyadari siapa sebenarnya Janhwa sejak awal. Hal itu dikarenakan Jangwoo lebih memilih untuk menitipkan kucing yang ia temukan di kedai Janhwa karena ia ingat bahwa Janhwa sangat suka dengan kucing. Namun, pada halaman 203 diceritakan Jangwoo baru sadar bahwa Janhwa adalah teman masa kecilnya.
Untuk beberapa hal, menurut saya banyak detail yang hilang di beberapa titik. Hal itu membuat cerita menjadi kurang gereget. Penulis seperti hanya menggambarkan suasana yang terjadi tanpa memasukkan sense dari setiap suasana yang disuguhkan. Contohnya, luka yang ada pada tangan Jangwoo. Sebenarnya itu luka apa dan karena apa? Ada pula cerita ketika Janhwa menemukan berkas penyelidikan di bawah diari orang tuanya. Berkas apa yang ditemukan dan apa hubungannya dengan Jangwoo?
Tidak hanya hilangnya detail, menurut saya, penulis pun sempat memasukkan detail yang tidak begitu penting dan menarik. Seperti pada cerita saat Jangwoo ada di Jepang (kalau tidak salah) dan memergoki ada seorang anak SMP yang begitu pintar, yang ternyata ia adalah Janhwa. Cerita itu berlanjut dengan hilangnya pulpen Janhwa dan ketika sudah pindah ke Seoul Jangwoo mengembalikannya kepada Janhwa. Cerita pulpen itu cenderung dipaksakan oleh penulis.
Menurut saya, novel ini layak dibaca oleh para remaja baik yang suka ataupun tidak suka dengan hal-hal yang berbau Korea. Walaupun nama dan latarnya berasal dari Korea namun, kisahnya tidak beitu keKoreanan. Dua bintang untuk buku ini.


Salam hangat,

@aninditaninda

0 responses:

Post a Comment

 

Galerie des Livres Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos