Tuesday, December 23, 2014

2014 #R26 >> Zhaenal Fanani - Haseki Sultan; Selir Istimewa Penghuni Istana Topkapi

Written by ninda anindita at 12/23/2014 09:09:00 AM

Judul                     : Haseki Sultan; Selir Istimewa Penghuni Istana Topkapi
Pengarang          : Zhaenal Fanani
Penerbit              : DIVA Press
Tebal                     : 478
Cetakan               : Pertama, Oktober 2014
ISBN                      : 978-602-296-036-2

Selir merupakan prototipe budaya Sumeria, Persia, dan Tiongkok. Para Sultan Ottoman mengadopsiya untuk menyeejajarkan diri sebagai bangsa besar sekaligus perhelatan untuk menentukan generasi penerus. Dari kantong rahim para selir hadir para kandidat penguasa baru, calon putra mahkota. (hal. 5)

Kehadiran wanita penghagat ranjang Sultan di setiap malam sudah menjadi kegiatan sehari-hari di Istana Topkapi. Tak ayal banyak gadis yang berlomba-lomba untuk dapat menjadi salah satu wanita yang bisa meneman malam Sultan dengan menjadi seorang gedikli, barisan para gadis yang mengantri demi melayani malam Sultan.
Menjadi seorang selir tidaklah mudah. Dari menjadi seoang gedikli, dan jika beruntung kau akan menjadi seorang selir. Jika tidak, kau akan terus-terusan menjadi gedikli sampai Sultan benar-benar menghendaki kehadiranmu.
Hal itulah yang dialami oleh Roxela. Berangkat dari menjadi seorang budak yang diculik dan kemudian diperdagangkan untuk bisa memasuki wilayah istana, ia akhirnya bisa mewujudkan impiannya. Pengalamannya menjadi seorang gedikli dan pelayan selir membuatnya bersikap hati-hati dan tidak mudah percaya dengn omongan orang lain.
Semuanya benar-benar terjadi, salah satu selir Sultan berniat membantu Roxela untuk menghangatkan ranjang Sultan. Namun, tanpa Roxela sadari semua itu hanyalah tipuan belaka. Beruntung, Roxela menyadari semuanya sebelum terlambat. Ia bisa menemani malam Sultan dengan selamat.
Perjalanannya tidak hanya sampai di situ. Walaupun sultan telah memberikannya paviliun baru, tapi ia belum juga hamil. Sedangkan, kekuasaan seorang wanita adalah ketika ia memiliki anak dari Sultan. Berbagai upaya telah dilakukan, namun hasilnya masih tetap saja nihil. Namun, ketika berita kehamilan itu datang, Roxela harus menelan kenyataan pahit. Ia harus berjuang melawan penolakan dari selir-selir Sultan lainnya.
Roxela ingin semuanya berjalan normal. Ia tidak ingin berita kehamilannya memicu rasa cemburu dari selir-selir lainnya. Maka, Roxela pun memutuskan untuk merahasiakan kehamilannya. Hanya beberapa orang yang berhak tau tentang ini.
Hari berganti bulan. Sudah saatnya bagi Roxela untuk menghadirkan putra mahkota ke bumi. Sudah saatnya pula Roxela mengatakan bahwa semua mimpinya telah menjadi kenyataan. Namun, kenyataan itu justru membuat gempar para penghuni harem.
Roxela ingat dengan penjelasan Samiye bahwa persaingan di dalam harem demikian ketat, nyaris persis dengan perebutan tahta sebuah kekuasaan. Para competitor saling menjatuhkan dengan cara terang-terangan atau tersembunyi, dengan tangannya sendiri atau meminjam tangan orang lain. Pemenangnya adalah orang yang siap menghadapi semuanya dengan akal. (ha.93)
Pengkarakteran masing-masing tokoh sangat kuat membuat atmosfer di dalam harem jelas terasa di benak pembaca. Kepintaran Roxela membuat ia pantas untuk mendapatkan apa yang selama ini telah menjadi mimpinya. Tak ayal mengapa haseki dan Iqbal sultan sangatlah cemburu dan waspada dengan kehadirannya. Roxela berbeda. Ia tak hanya cantik, namun juga memiliki kepribadian yang sangat menarik sehingga Sultan tidak bisa tidak tunduk di hadapannya. Hal itulah yang membuat semua orang ingin menyingkirkan Roxela dengan cara apa pun.
‘Peperangan’ yang terjadi di harem terasa nyata adanya. Semua demi jabatan. Menyingkirkan satu persatu musuh di depanmu, lalu kau akan menemukan titik tertinggimu.
Buku ini layak dibaca oleh para penggemar cerita-cerita sejarah kebangsaan Ottoman, bagi orang-orang yang penasaran dengan kehidupan di balik kemegahan Istana Topkapi.
Salam resensor,

@aninditaninda

0 responses:

Post a Comment

 

Galerie des Livres Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos