Saturday, November 29, 2014

2014 #R24 >> Pia Devina - Weh; Sebuah Pulau Sebuah Cerita

Written by ninda anindita at 11/29/2014 12:26:00 PM

Judul                     : Weh; Sebuah Pulau Sebuah Cerita
Pengarang          : Pia Devina
Penerbit              : de TEENS
Tebal                     : 244 halaman
Cetakan               : Pertama, September 2014
ISBN                      : 978-602-255-672-5

Aku ingin marah kepadamu karena melanggar kesepakatan kita! Kamu pergi meninggalkanku saat seharusnya kita pergi bersama ke Pulau Weh ini—pulau ketujuh kita! –Tami (hal. 50)

Jalan-jalan kali ini begitu berbeda. Seharusnya Jeff menemaninya mengunjungi pulau ini. Pulau yang menjadi destinasi mereka di usia 27 tahun. Jeff yang sudah membuat Tami kehilangan saat ia sadar ia harus menepati janjinya. Tami berhutang janji untuk mengunjungi Pulau Weh. Namun, ia kecewa. Seharusnya Jeff juga menepati janjinya, tapi ia justru pergi meninggalkannya sendiri.
Di sini, Tami menemukan kehadiran sosok lain. Lelaki yang selalu mengganggu dan membuat kacau liburannya. Hukum karma selalu berlaku. Lelaki itu pantang menyerah untuk terus ‘mengusik’ kehidupan Tami. Namun, ketika Tami memutuskan untuk menyerah kepada lelaki itu, kisah lain pun terkuak.
Faris gelagapan. Sikap Tami yang berubah secara tiba-tiba membuatnya bingung. Berbagai hal harus dilakukannya agar tidak kehilangan jejak Tami. Hingga ia harus menyewa tiket liburan hanya untuk bertemu dengannya.
“Sebenernya lo bikin dia merasa jauh lebih nyaman. Cuman karena hal yang sebenernya nggak ada hubungannya dengan lo itu, dia malah nutup pintu hatinya lagi buat lo rapat-rapat.” (hal. 226)
Dari semua buku DIVAPress Group yang saya, dari segi layouting, buku inila yang paling perfect di antara yang lainnya. Tidak ada ‘pengilangan’ spasi dan hal-hal yang mengalihkan fokus lainnya. Sarkastik memang, tapi ituah kenyataannya.
Penulis menceritakan tokoh Tami dan Faris dengan sangat enak. Pengkarakterannya sangat kena. Sayang, untuk kenangan antara Tami dan Jeff kurang begitu mengena di hati saya sebagai pembaca. Sepertinya cerita ini disuguhkan terlalu cepat dari yang seharusnya. Penulis bisa saja menambahkan hal-hal lain agar cerita ini tidak terkesan tergesa-gesa dan semaki banyak alur dan konflik yang bisa didapat.
Buku ini bagus dibaca untuk para pecinta romance. Juga untuk yang percaya bahwa kepergian seseorang bukanlah akhir dari segalanya.
Jeff…, izinkan aku belajar mencintai orang lain dan menjadikan kenanga kita sebagai memori yang terlalu tersimpan di hati dan benakku…. –Tami (hal. 242)
Salam resensor,

@aninditaninda

0 responses:

Post a Comment

 

Galerie des Livres Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos