Friday, November 14, 2014

2014 #R23 >> E. Rows - Immortality of Shadow; Ratapan Kematian di Boonville

Written by ninda anindita at 11/14/2014 09:23:00 AM

Judul                  : Immortality of Shadow; Ratapan Kematian di Boonville
Pengarang          : E. Rows
Penerbit             : DIVAPress
Tebal                 : 264 halaman
Cetakan             : Pertama, September 2014
ISBN                 : 978-602-255-683-1

Sebagian orang tidak menyukai sesuatu yang mengerikan, sebagian yang lain malah sebaliknya. Sebagian orang juga meemiliki versi mereka masing-masing mengenai definisi dari mengerikan itu, tapi Rose dan Barry mendefinisikannya dengan cara mereka sendiri. (hal. 7)

     Menghuni rumah baru seharusnya menjadi satu hal yang menyenangkan. Namun, tidak bagi keluarga James. Kepindahan mereka justru menambah pelik masalah yang ada.
     An Hammer, sebuah rumah bergaya Victoria klasik perlahan demi perlahan menggerogoti kesehatan jiwa pemiliknya. Mimik aneh dari orang-orang tentang kepindahan mereka dan cerita tentang ‘teman’ baru Janet membuat suasana rumah semakin suram. Cerita dari Dave terus terngiang di benak Eliana. Tentang Kim yang mendayung sebuah perahu menuju ke tengah danau di belakang rumahnya. Tentang suami yang tega memanggang istrinya di dalam oven. Tentang seorang ayah yang tega membakar dan memotong lidah anaknya sendiri karena takut ia menyebarluaskan kelakuannya. Dan masih banyak hal lain yang berkelebat di dalam pikiran Eliana.
     Kejadian-kejadian aneh dan mengerikan mulai terjadi di An Hammer. Suara ketukan pintu di tengah malam, kambuhnya somnambulisme Janet, dan perubahan sikap yang terus menerus dialami Rose. Lama-kelamaan, James semakin tidak betah berada di rumahnya sendiri. Ia harus tega untuk menyelamatkan Rose dari semuanya… dengan cara… membakarnya.
Tidak ada yang tahu bagaimana perasaan Corey saat itu. Pandangannya menerawang mengamati keempat anaknya yang masih mengeliilingi hewan peliharaan mereka. Dia tidak bias menepiskan firasat aneh yang ditemuinya beberapa menit lalu, saat Janet berteriak kencang ketika hendak memberi makan kelincinya dengan beberapa potongan wortel. Ketika itu, dia langsung mendekati Janet, keluar dari pintu kaca semitransparan yang menjadi pembatas antara ruang TV dan halaman samping. Bau amis yang kental menyembur dari sana, dari kelinci Janet yang biasanya dibiarkan bebas di halaman samping yang tidak terlalu luas. (hal.10)
     Merinding, takut, parno, dan mulas. Hal-hal itulah yang setia menemaniku ketika membaca buku karangan E. Rows ini. Penulis mendeskripsikan segala detail secara nyata. Membuat jantung memacu derunya lebih cepat. Beberapa kali aku lebih memilih untuk mengganti buku karena sudah tidak kuat untuk membacanya yang endingnya justru…. Aaah… kalian bacalah sendiri.
     Secara keseluruhan, cerita dikemas secara menarik. Namun, alangkah lebih baik jika bagian ketika Rose menjadi bahan bulian d sekolahnya tidak diceritakan terlalu detail karena hal itu justru agak menganggu kenyamanan para pembaca.
“Aku percaya dan aku juga sudah memikirkan risikonya. Kalau aku terus-terusan memikirkan bahwa tak selamanya pilihan yang akan kita pilih benar, maka aku tidak akan pernah maju dan tidak akan pernah menemukan apa yang aku cari. Hidup ini bukan hanya untuk memikirkan risiko yang akan dihadapi, tapi bagaimana caranya menghadapi risiko yang akan kita temui nanti. –Corey (hal. 99)
Salam resensor,
@aninditaninda


0 responses:

Post a Comment

 

Galerie des Livres Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos