Sunday, October 26, 2014

2014 #R21 >> Arthasalina - The Dancer; Mimpi di Ujung Selendang Merah Muda

Written by ninda anindita at 10/26/2014 08:55:00 PM

Judul                  : The Dancer; Mimpi di Ujung Selendang Merah Muda
Pengarang          : Arthasalina
Penerbit             : Mazola
Tebal                 : 236 halaman
Cetakan             : Pertama, September 2014
ISBN                 : 978-602-296-022-5

Tidak, tidak boleh berhenti. Kupijit lagi tombol hijau pada tape hingga suara tabuhan kendang mulai terdengr lagi. Tubuhku masih ingin menari. Selendang di pinggang kubentangkan ke kanan dan kiri tepat pada tabuhan kendang keempat. Dengan sendirinya tubuhku bergerak, gemulai mengeja nada. Bahkan aku lupa sudah berapa kali menekan tombol replay pada tape sejak siang tadi. Hanya ingin menitip rindu atas sosok penari terhebat sepanjang masa, Ibu. (hal. 5)

Ajeng terus melanjutkan tariannya. Ia tahu Bapak tidak akan pernah mengijinkannya menari. Tapi inilah hidupnya. Persetan dengan gelar sarjana kedokteran yang disandangnya. Ia hanya ingin menari demi melanjutkan cita-cita Ibu.
Ajeng memutuskan untuk mengunjungi Jogja, tempat Ibu berjuang membesarkan tarian tradisional. Tempat di mana Sanggar Prawestri menjadi primadona pada jamannya. Sekarang? Jangankan primadona, piala kemenangan pun enggan mendatangi para penari Prawestri.
Tenyata Bapak punya rencana lain. Bapak mengatur semuanya agar Ajeng pindah ke Solo. Bapak ingin Ajeng bertemu Bu Aini. Bapak hanya ingin menebus semua kesalahannya kepada Ajeng.
Hal yang tidak bisa dihindari dari menarikan tarian tradisional adalah terkesan sensual dengan pakaian yang agak terbuka di bagian atas, rambut yang digelung habis sehingga menampakkan tengkuk, dan gerakan anggun gemulai yang kadang dicap sebagai eksploitasi tubuh oleh segelintir orang yang tidak memandang dari sudut pandang seni. (hal. 41)
Tema yang diangkat untuk buku ini cukp menarik. Sayang, penyajiannya yang kurang mendalam justru terlihat sangat ngambang di mata pembaca. Alur yang dibuat smooth dan menonjolkan kesuksesan Ajeng justru membuat poin utama dari kisah ini menjadi tidak menarik.
Arthasalina membuat subjudul ‘Mimpi di Ujung Selendang Merah Muda’. Saya baru sadar. Selendang merah muda yang dimaksud adalah selendang pemberian dari Deden. Saya berharap bahwa di dalam kisah ini Deden memiliki pengaruh paling dominan dalam kehidupan Ajeng sebagai penari. Namun, yang itampilkan justru Bu Ainilah yang memiliki jasa besar dalam karir Ajeng.
Genre yang diangkat sangatlah blur. Apakah penulis ingin membuat genre sosial atau romance. Keduanya ada di dalam novel tapi tidak ada yang dominan.

Salam resensor,

@aninditaninda

0 responses:

Post a Comment

 

Galerie des Livres Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos