Monday, October 13, 2014

2014 #R18 >> Musdalifah - Moning Dew; Cerita Gadis Embun

Written by ninda anindita at 10/13/2014 07:07:00 PM

Judul                  : Morning Dew; Cerita Gadis Embun
Pengarang          : Musdalifah
Penerbit             : de TEENS
Cetakan             : Pertama, Juni 2014
ISBN                 : 978-602-255-624-4

Seperti embun yang tetap harus pergi. Bukankah kematian juga hal yang serupa? (hal. 40)
Kehilangan itu memang menyakitkan terutama jika kita kehilangan orang-orang yang kita cintai. Hal itu pulalah yang dirasakan oleh Hanna, ia harus merelakan sang ayah yang menjadi korban kecelakaan pesawat terbang. Ia juga harus merelakan kekasihnya yang mengidap penyakit kanker stadium akhir selama satu tahun belakangan ini. Di tengah kerapuhannya, Hanna harus tetap berdiri tegar, ia harus selalu menjadi embun yang selalu menyejukkan orang-orang di sekitarnya.
Untuk mengobati luka hatinya dan membahagiakan Derry, Hanna rela pergi menuntut ilmu ke negeri yang ‘tak pernah gelap’. Ke negeri tempat Gerry ingin melanjutkan studinya. Hanna hanya ingin membuktikan bahwa ia tidak akan pernah merasa sedih karena ia telah mewujudkan mimpi Derry.
Di Oslo, Hanna belajar menemukan segala yang ia inginkan. Ia belajar melukis dengan hati melihat aurora secara langsung, dan juga menemukan arti cinta yang baru. Di sini ia bertemu dengan Fyo, Flos, Kalf dan segala cerita cinta yang mereka berikan. Fyo sudah dengan baik hati membagi kamarnya dengan Hanna. Fyo melakukannya karena ia tahu bagaimana rasanya di hidup di perantauan yang jauh dari sanak saudara. Fyo juga yang selalu memendam perasaannya kepasa Flos karena Fyo tahu bahwa Flos hanya mencintai Hanna. Namun, Kalf datang dengan cerita yang lain. Ketika Hanna membutuhkannya ia justru menghilang.
Akan selalu ada cerita di setiap pertemuan. Karena setiap orang membawa kisah yang berbeda. Setiap yang ditemui akan memberi satu kenangan yang berarti. Cerita dan kenangan yang akan membentuk puzzle baru. (hal. 181)
Cerita yang ditulis oleh Musdalifah sangatlah simpel dan menyentuh. Namun, penyajian rasa kehilangan yang berulang-ulang justru membuat tokoh Hanna jadi terasa patut untuk dikasihani. Hal ini membuat sisi tegar yang akan ditonjolkan Hanna tidak terlalu terlihat. Menurut saya, agak aneh juga ketika setelah kematian Derry Hanna tidak pernah lagi berkunjung ke rumahnya. Walaupun alasan yang diutarakan sudah cukup jelas, tapi masih agak kurang masuk akal karena bagaimanapun juga Derry adalah kekasih Hanna. Jika Hanna langsung menghilang terkesan bahwa Hanna sudah benar-benar bebas dari perasaan berkabungnya.
Di dalam buku ini juga beberapa kali ditulis bahwa Kalf rindu dengan keluarganya. Sebagai pembaca saya berharap bahwa penulisakan menyajikan kisah lain dari sosok Kalf, namun ternyata hasilnya nihil. Rasanya percuma ditulis bahwa Kalf rindu keluarganya tapi tidak ada cerita lanjut mengenai hal tersebut.
Di dalam penulisandan layouting, buku ini masih terdapat beberapa kesalahan seperti tidak adanya spasi pada :
1.       Hal 28 paragraf ketiga baris pertama
2.       Hal 40 paragraf kedua baris pertama
3.       Hal 40 paragraf terakhir baris pertama
4.       Hal 114 paragraf kedua baris pertama
5.       Hal 117 paragraf ketiga baris pertama
6.       Hal 275 paragraf kedua dari terakhir baris kedua
“Jangan jadikan kecintaanmu pada sesuatu sebagai beban. Biarkan rasa itu mengalir. Rasakan kehangatannya di hatimu. Jangan dipaksakan, coba sapa ia terus-menerus sampai kalian bias merasa saling terbiasa. Seperti itu aku melakukannya.” (hal. 180-181)

Salam resensor,

@aninditaninda

0 responses:

Post a Comment

 

Galerie des Livres Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos