Monday, September 1, 2014

2014 #R16 >> Mini GK - Le Mannequin; Hatiku Tidak Ada di Paris

Written by ninda anindita at 9/01/2014 08:50:00 AM



Judul                  : Le Mannequin; Hatiku Tidak Ada di Paris
Pengarang          : Mini GK
Penerbit             : DIVA Press
Tebal                  : 361 halaman
Cetakan             : Pertama, Juni 2014
ISBN                 : 978-602-255-588-9

Bermimpi itu indah dan merealisasikannya akan menjadikan mimpi kita terasa lebih indah. Begitulah yang dilakukan Sekar. Tanpa mengetahui apa yang akan terjadi, ia nekat untuk hijrah ke ibu kota demi meraih mimpinya untuk menjadi seorang desainer ternama. Di dalam perjalanannya pun ia bertemu seorang lelaki yang kelak akan menjadi kekasihnya. Lukman. Ya, ia yang memberi gambaran kepada Sekar tentang bagaimana kerasnya hidup di ibu kota. Ia juga membantu Sekar untuk mencarikan alamat yang ia tuju.
Hari demi hari berlalu. Hubungan Sekar dan Lukman semakin intim. Sekar sering mendambakan pernikahan yang manis dengan Lukman, tapi apa daya Lukman justru terlihat tidak tertarik dengan topik tersebut. Hingga pada suatu hari, Lukman memperkenalkan Sekar kepada orang tuanya. Dengan segala persiapan yang matang dan sempurna, Sekar berharap akan mendapatkan sambutan manis dari kedua orang tua Lukman. Sayang, hanya ayah Lukmanlah yang tertark dengan kehadiran Sekar. Ibu Lukman terlihat sibuk menunggu Sabinta yang jauh lebih cantik, modis, dan kaya daripada Sekar. Sekar tahu dan sadar bahwa sampai kapan pun ia tidak akan mendapatkan restu dari ibu Lukman.
Kehadiran seseorang yang berarti dalam hidup adalah candu yang tak akan pernah tergantikan oleh segepok kesenangan lainnya. (hal 39)
Yasak hadir di kehidupan Sekar. Ia selalu hadir di saat Sekar membutuhkan teman untuk bersandar. Sikapnya mengingatkan Sekar pada seseorang yang jauh di tanah kelahirannya. Seseorang yang telah mengajarkannya apa arti mimpi. Seseorang yang telah meyakinkannya untuk mewujudkan semua mimpi-mimpinya. Seseorang yang menjadi tempat Sekar berkeluh kesah tentang hubungannya dengan Lukman. Dan seseorang yang dengan setia menanti kepulangan Sekar ke tanah kelahirannya.
Sekar akan mewujudkan mimpinya untuk pergi ke Paris. Ia dipercaya untuk mengikuti sebuah fashion show di sana. Candra mengijinkan Sekar untuk pergi tapi dengan satu syarat. Sekar harus kembali untuk dirinya. Sedangkan di belahan dunia lain, Yasak sudah mempersiapkan sebuah cincin manis untuk Sekar. Di manakah hati Sekar akan tertambat?
Aku mengenalmu sebagai wanita tangguh dan selamanya akan tetap tangguh walau sebesar apa punbadai yang menerpamu. Aku tahu itu, walau aku terlambat mengetahuinya. Lagi-lagi aku terlambat. Aku memang lelaki payah. (hal. 35)
Dibuka dengan penyajian lembut dari seorang Ahmad Tohari dan Tasaro GK membuat kita berpikiran bahwa konten dari novel ini tidak jauh dari sesuatu yang berhubungan dengan budaya, adat, dan istiadat. Sayang, kita hanya akan menemukannya beberapa di sini. Penyajian dari segi agama yang bermakna dalam justru terkesan dipaksa untuk hadir di dalam novel ini. Saya berharap Mini GK akan mengangkat budaya sebegitu agungnya, tapi saya hanya menemukan sebagian kecil motif batik dan norma sosial di dalam novel ini. Penempatan beberapa deskripsi yang asal-asalan mempertegas ‘pemaksaan’ alur yang ada. Seperti deskripsi yang terdapat pada halaman 142 paragraf terakhir. Menurut saya, itu tidak penting untuk ditampilkan. Pada halaman 63-64 juga terdapat dialog yang tidak nyaman dibaca. Cobalah untuk melafalkannya terlebih dahulu sebelum ditulis.
Ada pula kekacauan deskripsi tokoh. Pada halaman 156 dikatakan bahwa Yasak adalah anak bungsu dari Diamanta, tapi pada halaman 158 tertulis bahwaYasak merupakan anak sulung. Sebaiknya saat menulis, penulis memiliki sebuah catatan tentang deskripsi para tokoh hingga meminimalisir terjadinya rancu seperti ini.
Saya juga ingin menanyakan kepada penulis. Berdasarkan deskripsi yang dipaparkan bahwa pada saat itu handphone adalah sebuah barang mahal dan keren di desatersebut, itu mengindikasikan cerita tersebut terjadi di sekitar awal 2000-an. Tapi, ketika Sekar akan berangkat ke Jakarta, ia mampir ke Bukit Bintang. Tolong koreksi jika saya salah, tapi setahu saya Bukit Bintang baru dikenal masyarakat luas sekitar tahun 2010-an dan saat itu handphone sudah bukan merupakan barang mahal lagi bahkan untuk masyarakat desa sekalipun. Kecuali jika penulis mendeskripsikannya untuk daerah pedalaman Kalimantan, Sulawesi, Papua, dll.
Terakhir, saya ingin mengoreksi beberapa kesalahan penulisan.
1.       Hal 75 tertulis ‘gemitang’. Menurut KBBI, kata yang tepat adalah ‘gemintang’.
2.       Hal 131 apakah memang benar ‘wise’ atau ‘wish’. ‘Wise’ berarti bijak, sedangkan ‘wish’ berarti harapan.
Karena banyak kekacauan yang terjadi, saya sangat tidak menikmati isi cerita yang ada, maka saya hanya bisa memberikan satu bintang untuk novel ini.

Salam resensor,
@aninditaninda

0 responses:

Post a Comment

 

Galerie des Livres Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos