Wednesday, July 30, 2014

2014 #R14 >> Sayfullan - Imaji Dua Sisi; Hingga Waktu Mampu Melarutkan Rasa Itu ke Dalam Hatinya

Written by ninda anindita at 7/30/2014 09:42:00 AM

Judul                  : Imaji Dua Sisi; Hingga Waktu Mampu Melarutkan Rasa Itu ke Dalam Hatinya
Pengarang          : Sayfullan
Penerbit             : de TEENS
Tebal                 : 332 halaman
Cetakan             : Juni 2014
ISBN                 : 978-602-7968-86-8

“Tepat, Lin. Begitulah harusnya kita menghadapi masalah hidup. Cobaan hidup ini layaknya asam asetat yang pekat. Masam dan bau. Tapi, jika hati kita bisa seluas sungai dalam menerima atau mau untuk belajr ikhlas, cobaan itu tak akan pernah terasa.” (hal. 242-243)

Bagaimana rasanya apabila hidup kita dianalogikan sepert unsur-unsur dan ikatan-ikatan yang ada dalam kimia. Seru bagi yang menyukainya dan memang berniat untuk terjun ke dalamnya.
Buku ini berkisah tentang para mahasiswa baru alias maba yang sedang melakukan tugas ospek tidak masuk akal dari para senior. Bara, Bumi, Lintang, dan Repi. Empat sahabat yang saling berebut memperjuangkan tugas dan... cinta. Cinta satu arah, dua arah, tiga arah, bahkan tanpa arah mewarnai kehidupan mereka sebagai mahasiswa baru di Universitas Diponegoro Semarang.
Sayang ada seorang ‘penggila’ kimia dan bermimpi untuk membuat ‘love poison’ demi mendapatkan gadis impian yang selalu berada di depannya. Tapi, sadarkah ia bahwa ada orang lain yang rela melihatnya bahagia walaupun ia juga mencintai orang yang sama. Sang primadona.
Lalu bagaimana dengan semua bahan-bahan yang telah ia siapkan untuk mengambil feromon dari saingannya tersebut. Seberapa bahayakah feromon itu? Apakah benar-benar bisa mengancam nyawa seseorang? Dan sebenarnya, luka apa yang dipendam oleh sang primadona sampai ia rela mengutus seseorang untuk menjadi ‘pacar bohongannya’?
Gue nggak peduli dengan teriakan para penonton ini. Buat apa menggubris mereka? Apa mereka yang bakal bertanggung jawab jika gue nantinya bahagia atau terluka? Atau, mereka juga yang bisa menjamin cowok di samping gue ini adalah benar-benar cowok yang diturunkan Tuhan buat gue sebagai ganti Kak Rakai? Nggak ada yang menjamin, kan? (253-254)
Saya suka dengan alur cerita yang anti-mainstream. Kisah percintaan yang dilihat dari sisi kimiawi. Kisah percintaan yang mungkin hanya bisa diungkapkan melalui feromon yang telah dibuat. Kisah percintaan yang mungkin juga tidak akan pernah ada karena krisis kesehatan. Tentang ospek gila yang selalu hadir dan menjadi momok mengerikan di tengah murid dan mahasiswa baru. Tentang keajaiban-keajaiban unsur-unsur kimia lainnya. Sayfullan telah sukses membuat cinta menjadi unik... dan rumit. Saya memang bukan anak IPA, tapi Sayfullan menyajikan semuanya dengan sangat ringan, sehingga semua orang bisa memahami isi cerita dengan mudah.
Mungkin saya hanya ingin memberikan sedikit koreksi terhadap tata penulisannya.
1.       Pada hal. 3 tertulis ‘sang pencipta, sang pemberi ruh kehidupan dan kesempatan’. Sebaiknya huruf-huruf yang saya garis bawah ditulis secara kapital. Mengingat kata-kata tersebut merujuk kepada Tuhan.
2.       Pada hal. 20 tertulis ‘syirik’. Mungkin lebih tepat jika ditulis ‘sirik’ karena ‘syirik’ dan ‘sirik’ memiliki arti yang berbeda.
3.       Pada hal. 133 pragraf kedua terakhir tecantum ‘tidak ingin sedang’ mungkin lebih baik ditulis ‘sedang tidak ingin’.
4.       Pada hal. 135 paragraf keempat tertulis ‘PPft’ mungkin seharusnya ditulis ‘Ppft’.
5.       Pada hal. 139 paragraf terakhir tertulis ‘ka mana’ mungkin seharusnya ditulis ‘ke mana’.
6.       Pada hal. 182 tertulis ‘sang korban korban’ mungkin seharusnya ditulis ‘sang korban’.
Dan ada beberapa kritik saya bagi para editor dan layouter untuk membubuhkan spasi pada :
1.       Hal. 58 baris kelima terakhir
2.       Hal. 129 paragraf terakhir baris pertama
3.       Hal. 256 paragraf keempat ‘Sorikalau’
4.       Hal. 293 paragraf kelima baris pertama
5.       Hal. 322 baris terakhir ‘dibalik’
“Setiap orang di sini pasti pernah merasakan patah hati, kan? Tapi bukankah itu tak lantas membuat seseorang harus berhenti berjalan? Mengakhiri hidupnya, meraih mimpinya? Mungkin juga cinta barunya yang sebenarnya telah disediakan oleh Tuhan? Jadi, apapun keputusan gue, ini bukan merupakan akhir buat cowok yang malam ini dengan berani mengungkapkan cintanya kepada gue.” (hal. 252)
Salam resensor,

@aninditaninda


0 responses:

Post a Comment

 

Galerie des Livres Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos