Friday, June 27, 2014

2014 #R10 >> D. S. M. Dedelidae - The Violinist; My Heart Will Go On

Written by ninda anindita at 6/27/2014 07:33:00 PM

Judul                  : The Violinist; My Heart Will Go On
Pengarang          : D. S. M. Dedelidae
Penerbit             : MAZOLA
Tebal                 : 264 halaman
Cetakan             : Pertama, Juni 2014
ISBN                 : 978-602-255-620-6

Alla. Seorang violinist amatir yang memiliki mimpi besar untuk menjadi seorang violinis hebat. Apapun akan ia lakukan untuk mewujudkan mimpi terbesarnya itu. Termasuk meminta tolong untuk berguru kepada lelaki yang selalu menyendiri di Stasiun Termini, Roma.

Alla tidak tahu apa yang membuatnya selalu bermain violin di pinggir rel kereta api. Wajahnya yang sendu dan permainannya yang sempurna walaupun mengiris membuat Alla tersentuh. Berbagai macam cara dilakukannya agar lelaki itu berkenan untuk mengajarkannya bermain violin walaupun Ale sudah melarangnya untuk mendekati lelaki itu.
Kegigihan usahanya mengantarkan dia untuk bertemu guru lesnya yang memustuskan untuk kembali ke Roma. Melalui Kak Rhea-lah akhirnya ia bisa bertemu dengan lelaki itu setiap waktu. Mencoba menyapanya agar ia bisa kembali bergairah menjalani hidup. Tetapi lelaki itu tetapi cuek. Ia tetap ketus ketika Alla menyapanya, bahkan ketika ia mengajaknya berbicara. Jika tidak demi mengalahkan kesombongan Dita, mungkin ia sudah menyerah.
Sudahlah , mungkin aku harus ikhlas, demi sebuah mimpi, demi mendapatkan hatinya juga. (hal. 187)
The Violinist, poin utamanya bukan berkisah tentang kehidupan para pemain violin yang bagaimana mereka bermain di atas panggung. Justru ini seperti dua cerita yang dilebur menjadi satu. Kisah Violino Adriano bersama masa lalunya dan juga kisah Allaire Arianna bersama rivalnya. Membacanya seperti berada di dua dimensi waktu berbeda tetapi sama. Hanya pada halaman 60 ketika Ale menjawab pertanyaan Alla tentang lelaki pemain violin itu, menurutku Alla terlalu cepat menyimpulkan bahwa Ale menyembunyikan sesuatu. Hal ini lah yang membuat cerita dan ending-nya mudah sekali ditebak. Tetapi terlepas dari judul, penyajian plot yang antimainstream membuat cerita ini cukup menarik dan layak untuk mendapatkan tiga bintang.
Tuhan, aku berharap, suatu hari dia sadar dan melihatku sebagai perempuan yang tak pantas disakiti. Buat hatinya mengenaliku, Tuhan. Tuliskan namaku di hatinya, dan biarkan hatinya menangis saat aku tersakiti .... (hal.184)
Salam resensor,

@aninditaninda

0 responses:

Post a Comment

 

Galerie des Livres Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos