Saturday, May 10, 2014

2014 #R4 >> Devi Eka - Morning, Gloria (Destiny of Twilight and the Dawn)

Written by ninda anindita at 5/10/2014 07:38:00 PM


Judul                  : Morning, Gloria : Destiny of Twilight and the Dawn
Pengarang          : Devi Eka (@vivi_mutz1 / viviingindsetya@rocketmail.com)
Penerbit             : de TEENS
Tebal                 : 310 halaman
Cetakan             : Pertama, April 2014
ISBN                 : 9786022555636

Ah, mainstream, nih. Eh, ngga deng. Eh, tapi agak-agak mainstream, nih. Eh, … Eh, … Eh, …
“Aku bingung kenapa orang-orang menyukai sunrise dan sunset. Bukankah mereka hanya fenomena alam yang hanya terlihat sementara? Kenapa kau tak menyukai hal yang selamanya? Bukankah itu lebih bagus?” (hal. 11)


Perdebatan antara sunrise dan sunset mewarnai dialog Gloria dan Bella. Bella heran mengapa banyak orang yang sangat tergila-gila pada kedua hal yang hanya sementara itu. Tapi Gloria punya pendapat lain. Sunrise yang ia cintai memberikan semangat yang akan selalu hadir di setiap paginya. Ia berharap sunrise akan selalu membuka harinya dengan ceria. Semoga.
Tak hanya Bella yang mendebatkan masalah sunrise dan sunset. Avond, si lelaki senja, berusaha sekuat tenaga agar Gloria menyukai sunset. Tapi, ia hanya bisa menerka, apakah yang dikatakan orang-orang itu bahwa fajar dan senja takkan bisa bersatu. Entahlah, yang jelas, bersama Avond, keceriaan hidupnya bertambah. Hingga ia berharap bahwa gadis fajar dan lelaki senja dapat bersatu.
Awalnya, saya (dan teman saya yang kebetulan juga membaca) menganggap novel memberikan tema yang kacangan. Yang sudah banyak di pasaran. But, actually … it’s different. Totally different. Berada di tengah perjalanan bersama Gloria dan Avond membuat saya terhanyut dan semakin menerka apa yang akan terjadi. Devi Eka mengemas cerita dengan unik. Ia sudah memberikan beberapa konflik penting di awal cerita. Tapi itulah yang membuat kami terheran-heran.
“Mi, ini pasti ceritanya mainstream banget.”
“Kayaknya iya deh, Yung. Udah ketebak banget kalau Gloria cuman berharap sama Avond dan ending-nya bakal sama Avond.”
“Iya, tapi yang aneh, Mi, kenapa udah diceritain di awal, ya? Kan jadi kita ga perlu baca semua isi buku. Orang ending­-nya udah ketebak.”
“Iya, sih, Yung. Ya udah lah, be professional. Aku cuman disuruh ngeresensi, kok. Ya dibaca aja sampe beres. Perkara mainstream apa nggal ya urusan penulisnya.”
Hahaha. Itulah yang menjadi bahan perbincangan kami selama membaca novel ini. Tapi harus kami akui secara jujur kalau kami salah. Memang Gloria mencintai Avond dan begitu pula sebaliknya. Tapi alur yang diberikan sangat di luar dugaan, termasuk mengenai para tokoh pendamping.
Cinta. Flora yang tumbuh karena memang kita tanam dan dinanti. Tetapi, terkadang ia tumbuh sendiri. Cinta yang pertama ialah cinta yang memang ingin kita miliki dan kita sadar akan hal itu. Cinta yang kedua adalah cinta pandangan pertama ketika ada getaran di dalam dada saat bertemu. (hal.37-38)
Saya nyaris tidak menemukan kesalahan di dalam novel ini. Hanya ada beberapa keluputan dalam memberikan spasi pada hal. 10 baris ke-5 dari bawah, hal. 152 baris ke-6 dari bawah, hal. 171 baris ke-10 dari bawah, dan hal. 291 baris ke-2 dari bawah. Hanya itu saja, sih. Overall, I very love it. It’s unique. Dan dari 5 bintang saya memberikan 10 bintang. Eh, ga bisa ya? Oke, deh saya akan member semua bintang saya buat ‘Morning, Gloria’. Nice job, girl!

Salam resensor
@aninditaninda

0 responses:

Post a Comment

 

Galerie des Livres Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos