Monday, April 14, 2014

2014 #R2 >> Chandra Widayanthi, dkk. - Ground Zero (A Crime Behind The Shadow)

Written by ninda anindita at 4/14/2014 10:11:00 PM





Judul                  : Ground Zero (A Crime Behind The Shadow)
Pengarang          : Chandra Widayanthi, dkk.
Penerbit             : de TEENS
Tebal                 : 315 halaman
Cetakan             : Pertama, Maret 2014
ISBN                 : 9786022791294

“Tenang ya, Key. Asal kita nggak gangguin, mereka juga nggak ganggu kita. Dirajinin aja ibadahnya, Key. Allah selalu bersama kita. Kita kan, sama-sama makhluk Allah, harus bisa saling menghargai, meski beda dimensi,” hibur Laksmi. (page 107)

          Teror mimpi yang terus menghantui Key benar-benar membuat Key tidak bisa hidup dengan tenang selama berada di Kos 666. Awalnya Key ingin menampik semuany, tapi setelah mendengar pembicaraan dari ibu-ibu di toko Mbak Sri pun semakin membuatnya tidak nyaman.

Rumah Kos 666 karya Agustin Sudjono adalah salah satu cerita horror yang disajikan dalam buku kumpulan cerpen berjudul Ground Zero : A Crime Behind The Shadow. Semua cerita disajikan secara unik dengan karakternya masing-masing. Cukup menarik untuk dibaca. Sayang, ada beberapa cerita yang kurang gereget, yang menurut saya hanya menang unik, tapi sebagai cerita horror mereka kurang “nendang”, padahal mereka adalah para pemenang dari Lomba #HorrorKotaNusantara yang seharusnya bisa lebih dari ini. Atau mungkin saya sudah terbiasa dengan cerita horror yang emang “nendang” jadi agak malas untuk membaca beberapa cerita. Selain itu, ada beberapa cerita pula yang ending-nya terkesan maksa. Yang seharusnya bisa dikembangkan lebih baik lagi tetapi harus ditutup dengan ending yang terkesan buru-buru. Seperti pada kasus cerita Ground Zero yang ceritanya gantung. Sebagai pembaca, saya berekspetasi lebih pada cerita itu, apalagi ditambah dengan status yang disabetnya sebagai pemenang utama Lomba #HorrorKotaNusantara.
Cerita favorit saya adalah Hantu di Ambarukmo Plaza karya Redy Kuswanto, Malam di Rumah Sakit Kartika karya Jihan Nur Pratiwi), Pasar Bubrah karya Melati P., dan masih banyak lagi. Dan yang berhasil membuat jantung saya nyaris tak berdetak adalah Jembatan “Merah” Tak Berdarah karya Rufin Dhi dan Jarum Gantung karya Rizky Siregar. Menurut saya penyampaian cerita-cerita tersebut sangat santai tapi menarik. Membuat jantung nyaris tak berdetak karena menceritakan tentang tokoh yang “bersahabat” dengan para makhluk halus. Bahkan ada yang dalam satu malam saja dia sudah “panen” bersama 4 makhluk astral.
Beberapa kritik tentang keredaksionalan akan saya papakan di sini. Yang pertama, tidak adanya spasi pada hal. 231 baris ke-7. Yang kedua, untuk sinopsis yang tercantum di halaman belakang sebaiknya jangan dieri warna merah karena agak bertabrakan dengan layoutnya sehingga mempersulit membaca di waktu-waktu tertentu. Mungkin sebaiknya font color­-nya diberi warna putih sehingga lebih jelas. Sayang jika cover sudah bagus tapi kita tidak bisa membaca isi yang terkandung di cover itu. Ah, ya. Ada satu lagi yang ingin saya tanyakan kepada Kak Reza Nufa. Fungsinya cerita Karho pada Tikungan 33 apa ya? Karena menurut saya, kalau cerita Karjo ada sangkut pautnya dengan cerita Tikungan 33 sebaiknya diberikan ending yang pas juga untuk cerita Karjo.
“Ini pelajaran buat kita, Le, Anakku. Bahwa kita harus mempunyai ketebalan iman yang kuat, untuk menghalau segala pengaruh kekuatan sesat dan jahat.” Bapak memeri nasihat. (page 51)
Ya, kita memang harus memiliki iman yang kuat dalam menghadapi semuanya. Iman menipis sedikit saja kita sudah bisa terpengaruh dengan mudahnya. Tapi kalau iman kita cukup kuat, Allah juga akan melindungi kita dari segala bahaya yang sebenarnya tidak bisa kita hindari.
Saatnya pembagian rating!!! Berhubung ada beberapa cerita yang menurut saya tidak “nendang”, maka saya hanya memberikan 2 bintang dari 5 stok bintang saya. J Merci beaucoup.

Salam resensor

@aninditaninda

3 responses:

Agustin Sudjono said...

halo mbak.. salam kenal ya...
aku terima kasih banget secuil ceritaku rumah kos 666 jd 'preambule' review mbak.. :) *blushing*
padahal itu trial banget nulis di luar genre biasanya. hehehe. makasih mbak komentarnya.. :)

ninda anindita on July 1, 2014 at 9:54 AM said...

Aku suka quote-nya siiiih lagian aku juga agak miris kenapa nama tokohnya sama kayak nama kuuuu....
hikkksss -.-" Hahaha OOT

Jihan Nur Pratiwi on February 20, 2015 at 9:18 PM said...

Makasih review-nya ^_^ hihihi seneng banget baca nama aku disebut.

Post a Comment

 

Galerie des Livres Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos