Wednesday, March 26, 2014

2014 #R1 >> Minn - Spring Sonata

Written by ninda anindita at 3/26/2014 12:47:00 PM



Judul                  : Spring Sonata
Pengarang          : Minn (@PeriLabu)
Penerbit             : PING!!!
Tebal                  : 267 halaman
Cetakan              : Pertama, Maret 2014
ISBN                  : 978027968523

“Mamaku juga bilang jangan terlalu membenci seseorang. Suatu saat, kau bisa menyukainya.”

Kehidupan Matthew Dvorak semenjak Rheina Hutabarat tinggal di rumahnya semakin memburuk. Menurutnya, Rheina bukannya meringankan konflik yang selama ini ada, tapi justru menambah pelik konflik tersebut. Kebencian terhadap ayahnya pun semakin tak terbendung lagi. Tapi di tengah keputusasaannya, Mr. Graig dan Alouy membuat Matthew membuka mata. Membuka mata untuk lebih memasukkan perasaan ke dalam bermusik dan juga membuka mata kepada seseorang yang selama ini ia cintai. Dan ia pun mulai membuka mata dan hati untuk memaafkan berbagai kejadian yang telah menimpanya.

“Mereka sadar, sebuah musik sebenarnya bukan ajang menunjukkan bakat satu sama lain. Tapi, untuk dinikmati.”
Novel ini benar-benar menghanyutkan pembacanya. Dari yang awalnya hanya ingin membaca 2 atau 3 bab saja *inget tugas* justru malah melaju terus sampai khatam. Cerita ini sangat meremaja di tengah penampakkan musik klasik yang mungkin jarang diminati oleh remaja saat ini. Penulis juga membubuhkan detail musik yang pas tanpa membuat pembaca merasa bosan.
Sayang, di balik ceritanya yang menarik, saya sebagai resensor menemukan beberapa kasalahan redaksional yang cukup mengganggu. Contohnya pada kalimat ‘Matt masih muda saat ibunya pergi tiga belas tahun.’ (hal. 35) pertanyaannya adalah tiga belas tahun yang lalu atau saat Maat masih berusia tiga belas tahun? Pada hal. 209 par. 2 dan hal. 245 baris pertama juga ditemukan kesalahan redaksional berupa tidak adanya spasi di dalam kalimat tersebut.

Memaafkan selalu lebih baik ketimbang menyimpan kebencian seumur hidup. Matt sudah paham. Ia juga sudah lelah menjadikanalasan kebencian sebagai obat penenang. Nyatanya, rasa tenang itu hanya sementara. Setelahnya, ia malah merasa semakin buruk.
Secara keseluruhan buku ini memang menarik dan kreatif dengan menggunakan kertas berwarna pink di  beberapa lembar di dalamnya. Tetapi penggunaan kertas berwarna pink dengan tulisan berwarna merah membuat saya cukup pusing untuk membacanya. Mungkin untuk ke depannya, jika ingin menggunakan kertas berwarna bisa tetap menggunakan warna hitam untuk tulisannya. But, as I’ve said before, secara keseluruhan buku ini menarik dan layak dibaca oleh para remaja.
Dari 5 bintang, saya memberikan 4 bintang untuk keseluruhan isi cerita yang menarik dan 3 bintang untuk editorial dan layout. Merci beaucoup.
Salam resensor,
@aninditaninda

0 responses:

Post a Comment

 

Galerie des Livres Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos